Korban Scamming Rp165 Juta di Jakarta
Seorang karyawati berinisial RG (31) di Jakarta menjadi korban scamming dengan kerugian mencapai Rp165 juta. Kejadian ini terjadi setelah RG tertipu oleh seorang pria yang mengaku sebagai teman lama dan bekerja di bidang IT yang mengelola situs perjudian.
Awal Mula Penipuan
Kasus bermula pada awal Oktober 2025 ketika RG menerima panggilan dari nomor pribadi yang tidak banyak orang tahu. Seorang pria mengaku mengenalnya dari aplikasi kencan, padahal RG sama sekali tidak pernah menggunakan aplikasi tersebut. Namun, pria itu mengetahui detail masa lalunya, membuatnya merasa seperti bertemu teman lama.
Selama dua minggu, telepon-telepon larut malam menjadi rutinitas. Pria itu selalu menelepon setelah pukul 22.00 WIB dan mereka berbincang hingga dini hari. RG mengaku kurang tidur karena terus-menerus berbicara dengan pria tersebut.
Modus Pelaku
Pria itu bercerita tentang pekerjaannya di bidang IT, rencana proyek di Makau, dan urusan teknis sebuah situs web perjudian. Pada tanggal 9 Oktober, pria itu mengatakan bahwa dia akan ke Makau untuk mengurus proyek web perjudian. Ini menjadi awal dari semua petaka bagi RG.
Awalnya, pelaku meminta RG mengakses situs yang dikirimkan dengan alasan ada masalah pada server. Selanjutnya, pelaku memintanya melakukan top up dana di link yang dikirimkannya. RG mengaku mentransfer uang sebesar Rp80 juta sesuai instruksi pelaku.
Kerugian Besar
Setelah itu, pelaku terus menghubungi RG dan meminta transfer uang dari rekening pribadinya. Awalnya, RG diminta mentransfer Rp20 juta, kemudian Rp130 juta dan Rp15 juta. Total kerugian RG mencapai Rp165 juta.
Pelaku memberikan rekening orang Indonesia, dan RG merasa tidak yakin. Namun, pelaku memberi alasan panjang lebar mengapa harus menggunakan pihak ketiga. RG mengaku setengah sadar melakukan hal tersebut, seperti terkena hipnotis dari ucapan pelaku.
Menelusuri Situs Perjudian
Esok harinya, RG mencoba menelusuri situs ‘Lisboa Macau’ yang diklaim dikelola oleh pelaku. Ia menemukan banyak orang mengalami nasib serupa. RG membuka TikTok dan melihat banyak korban dengan modus yang sama. Ia merasa lemes dan langsung melapor ke Bank serta Indonesia Anti Scamming Center (IASC).
Laporan ke Polisi
RG melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian. Namun, ia merasakan betapa ribetnya proses birokrasi dan penegakan hukum. Hal ini membuatnya menyadari mengapa banyak korban lebih memilih diam daripada membawa ke ranah hukum.
Di akhir Oktober, RG bolak-balik ke Polda Metro Jaya untuk menanyakan progres laporan. Setelah membuat laporan pada 10 Oktober 2025, sampai akhir bulan tidak ada progres yang diterimanya. RG diarahkan ke bagian Pengawasan Penyidik (Wassidik) karena laporan bukan dibuat di Polda Metro Jaya.
Proses Hukum yang Rumit
RG diharuskan membuat surat kepada Wassidik untuk menindaklanjuti laporannya yang mandek di Polres Tangsel. Ia mengaku prosesnya rumit dan panjang. Meski sudah bicara panjang lebar mengenai kronologi kejadian, Wassidik belum bisa bekerja.
RG bersikeras mengikuti seluruh proses yang diminta oleh pihak kepolisian. Ia ingin memberitahu korban lain agar tahu cara mencari keadilan. RG menjalani pemeriksaan sebagai korban pada awal November 2025 di Polres Tangsel, namun hingga saat ini belum ada kabar lagi.
Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”











