"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"
Daerah  

Wajah di Tengah Macet Puncak, Berdiri Seharian Usir Kemacetan



JAKARTA – Kemacetan panjang yang nyaris menjadi pemandangan rutin di Jalan Raya Puncak, Bogor, setiap musim libur Natal dan Tahun Baru tidak hanya dihadapi oleh polisi lalu lintas. Di sejumlah persimpangan, tampak warga dengan rompi hijau berdiri berjam-jam di tepi jalan, mengatur arus kendaraan yang tak pernah benar-benar surut. Mereka dikenal sebagai Supeltas, relawan pengatur lalu lintas yang direkrut dan dikoordinasikan kepolisian untuk membantu mengurai kepadatan di salah satu jalur wisata terpadat di Jawa Barat.

Selama libur panjang, Supeltas menjadi perpanjangan tangan aparat di lapangan. Mereka membantu mengarahkan kendaraan, menjaga persimpangan sempit, serta mencegah kemacetan total di titik-titik rawan. Di tengah deru mesin kendaraan, Supeltas berdiri dengan tangan terulur, memberi isyarat berhenti dan jalan. Sesekali mereka mendekati pengendara, menunjuk arah, lalu kembali ke posisi semula. Arus kendaraan pun bergerak perlahan mengikuti aba-aba.

Hafal Titik Rawan Macet

Damar (bukan nama sebenarnya), telah dua tahun menjadi Supeltas di jalur alternatif Puncak. Ia mengaku hafal betul lokasi-lokasi yang kerap menjadi sumber kemacetan. “Saya sudah dua tahun jadi penunjuk arah di jalur alternatif Puncak, biasanya saya berdiri di titik-titik yang rawan macet, kayak di persimpangan yang sering dipotong kendaraan,” kata Damar saat ditemui, Selasa (30/12/2025).

Setiap hari, ia berdiri di titik yang sama sejak pagi. Dengan mengamati pergerakan kendaraan, Damar menentukan kapan satu arus harus ditahan dan kapan jalur lain dibuka. “Kita bantu arahkan mobil biar nggak saling serobot, intinya sih bantu melancarkan,” ujarnya.

Menurut Damar, pengaturan dilakukan dalam hitungan detik. Jika terlambat membaca situasi, kemacetan baru bisa muncul.

Di Bawah Koordinasi Polisi

Meski berstatus relawan, Supeltas tidak bekerja secara mandiri. Selama libur Natal dan Tahun Baru, mereka berada di bawah koordinasi langsung kepolisian. “Bantu polisi, ya kita ikut arahan mereka. Polisi biasanya sudah ngasih tahu titik mana yang harus dijaga, kapan harus ditahan, kapan dibuka. Kita nggak asal ngatur sendiri,” kata Damar.

Koordinasi dilakukan melalui arahan langsung di lapangan maupun isyarat antarpetugas. Bagi sebagian Supeltas, peran ini juga memiliki sisi ekonomi, terutama saat musim liburan. “Kalau soal penghasilan, terus terang kalau dibanding sama hari biasa, pas momen libur panjang gini memang beda lah. Biasanya kan kami suka dikasih pengendara,” ujar Damar.

Namun, sejak direkrut secara resmi, ada aturan yang membuat pengaturan lalu lintas lebih tertib. “Dengan Supeltas ini kita jadi nggak saling senggol dengan joki lain, lebih teratur, bisa dibilang resmi dari polres,” katanya. Selain itu, relawan juga menerima uang lelah dari kepolisian. “Kalau pas direkrut bantu polisi, ada uang lelahnya juga, walaupun nggak besar-besar amat. Tapi buat saya lumayan,” ujarnya.

Jam Kerja dan Pembagian Tugas

Supeltas lainnya, Acun (44), menyebut dirinya bagian dari Linmas yang direkrut membantu kepolisian selama libur panjang. Setiap hari, mereka bertugas sejak pukul 08.00 hingga 16.00 WIB, meski kerap lebih lama jika arus lalu lintas belum terurai. “Kalau dari rumah, kita dari jam 7 ya, kalau apel ke kecamatan dulu ada briefing pagi,” kata Acun.

Setelah apel dan pengarahan, mereka langsung menuju titik tugas masing-masing. “Setiap titik satu orang yang ditugaskan,” ujarnya. Selain mengatur kendaraan, Supeltas juga membantu memberikan informasi kepada pengendara yang kebingungan mencari jalur alternatif.

Dilarang Terima Tip

Berbeda dengan Supeltas nonresmi, relawan yang direkrut kepolisian dilarang menerima imbalan dari pengendara. “Tidak diperbolehkan menerima tip. Kami hanya mengarahkan dan membantu,” kata Acun. Hal serupa disampaikan Reva, Supeltas lain yang mengaku sering ditawari tip, tetapi selalu menolak. “Nggak boleh, kita nggak terima upah. Jadi kalaupun ada yang kasih, kita nggak terima,” ujarnya.

Bagi Reva, insentif resmi dari kepolisian sudah cukup sebagai bentuk apresiasi.

Dibekali Pelatihan

Sebelum turun ke jalan, para Supeltas mengikuti pelatihan singkat. Materinya mencakup teknik pengaturan lalu lintas hingga pertolongan pertama. “Ada kita pelatihan dulu, kita arahannya seperti apa,” kata Reva. KBO Satlantas Polres Bogor Iptu Ardian Novianto mengatakan, pelatihan diberikan agar relawan mampu bertugas secara aman dan profesional. “Ada dua terkait pertolongan pertama, bantuan hidup pertama terhadap korban kecelakaan, kemudian 12 gerakan pengaturan lalu lintas serta pemahaman terkait prioritas-prioritas,” ujarnya.

Selain itu, Supeltas juga dibekali pemahaman etika berlalu lintas. “Dan etika berkendara di jalan raya sehingga mereka tahu betul mana yang harus diprioritaskan,” kata Ardian.

Insentif dan Masa Tugas

Supeltas bertugas selama periode libur Natal dan Tahun Baru, sejak 20 Desember hingga 4 Januari 2025. Selama periode tersebut, mereka ditempatkan di persimpangan jalur alternatif dan titik rawan macet. Untuk setiap hari bertugas, relawan menerima insentif. “Untuk insentifnya per hari Rp100.000 ditambah dengan makan siang karena jam kerjanya dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore,” kata Adrian. Kepolisian juga melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum merekrut relawan. “Kita cek dulu apakah punya darah tinggi atau jangan sampai yang kita rekrut malah jadi korban kelelahan,” ujarnya.

Dinilai Membantu, Tapi Perlu Pengawasan

Keberadaan Supeltas dirasakan langsung oleh pengendara. Dadan (38), warga Bogor, menilai relawan lokal lebih mengenal medan. “Lumayan ngebantu, soalnya Supeltas ini orang lokal, hafal medan,” katanya. Sementara Yani (29) berharap peran Supeltas tetap diawasi agar tidak disalahgunakan. “Jangan disalahgunakan dengan dipercayakan oleh polisi, jangan malah jadi pungli,” ujarnya.

Pengamat kebijakan publik Trubus Rahadiansyah menilai pelibatan Supeltas bertujuan menciptakan rasa aman dan kelancaran lalu lintas, tetapi harus disertai pengawasan ketat. “Pelibatan Supeltas itu memang untuk meminimalkan pelaku kriminal sekaligus pungli,” katanya. Namun, menurut Trubus, tanpa pembinaan berkelanjutan, pelibatan relawan berpotensi menimbulkan persoalan baru. “Kalau pembinaan sama pengawasannya nggak ketat, ini sering jadi susah,” ujarnya.

Meski demikian, bagi para Supeltas, keterlibatan mereka berangkat dari keinginan sederhana sebagai warga setempat.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *