Seseorang dengan nama Sasha atau Sascha Riley membuat pernyataan yang mengejutkan dan memicu perhatian global setelah beredar di berbagai platform digital. Rekaman audio yang dibagikan oleh seorang kreator Substack menyampaikan tuduhan ekstrem terkait perdagangan anak dan eksploitasi, yang dikaitkan dengan jaringan Jeffrey Epstein serta beberapa tokoh publik Amerika Serikat. Namun, hingga saat ini, semua klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara hukum.
Rekaman audio ini telah viral di berbagai media seperti Substack, Threads, dan X. Dalam rekamannya, Riley mengklaim dirinya adalah veteran perang Irak yang dihormati. Ia menyatakan bahwa ia menjadi korban perdagangan anak sejak usia sangat muda, bahkan sejak usia 9 hingga 13 tahun. Menurut kesaksian Riley, ia diadopsi pada 1977 dan kemudian terlibat dalam jaringan kriminal yang disebut terkait dengan Jeffrey Epstein.
Audio yang menjadi pusat perhatian ini berasal dari file-file yang belum diedit dan diunggah oleh Lisa Noelle Voldeng, penulis Substack. Ia menjelaskan bahwa kesaksian ini direkam melalui beberapa percakapan telepon pada pertengahan Juli 2025. Versi asli dari rekaman ini disimpan, dan salinannya telah dibagikan kepada “kepolisian dan sekutu terpercaya di berbagai negara.”
Tuduhan yang Disampaikan dalam Kesaksian
Dalam rekaman tersebut, Riley menyampaikan sejumlah tuduhan serius. Antara lain, dugaan perdagangan anak di bawah usia 13 tahun, pemerkosaan, penyiksaan, dan pembunuhan. Ia juga mengklaim dipaksa untuk berpartisipasi dalam produksi film pornografi anak. Selain itu, Riley menyebut adanya peristiwa di mana seorang anak ditembak dan dibunuh dalam pembuatan snuff film—istilah yang merujuk pada film yang menampilkan pembunuhan nyata.
Seluruh peristiwa ini, menurut narasi yang beredar, dikaitkan dengan jaringan perdagangan anak Jeffrey Epstein. Dalam pengantar rekaman yang kini tersebar luas, penerbit, Lisa Noelle Voldeng, menegaskan bahwa “kesaksian ini dirilis demi kepentingan publik,” dan menyatakan bahwa Riley “bersedia bersaksi dan menjalani tes pendeteksi kebohongan.”
Namun, klaim yang dikemukakan dalam audio ini masih belum diverifikasi melalui dokumentasi hukum resmi maupun investigasi independen yang diakui oleh media arus utama. Oleh karena itu, klaim ini tetap berada pada status tuduhan yang belum terbukti secara hukum.
Nama-Nama Tokoh Publik yang Disebut
Bagian paling kontroversial dari kesaksian ini adalah ketika sejumlah nama tokoh publik disebut secara eksplisit dalam narasi rekaman. Di antaranya adalah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump; anggota Kongres Jim Jordan dari Ohio; anggota Kongres Andy Biggs dari Arizona; Senator Lindsey Graham dari South Carolina; serta Hakim Mahkamah Agung Clarence Thomas.
Meski demikian, semua nama yang disebut dalam rekaman tersebut belum muncul dalam dakwaan resmi, dokumen pengadilan, atau proses investigasi yang dapat diverifikasi oleh media arus utama sampai saat ini. Artinya, narasi yang mengaitkan individu-individu ini ke dalam pola kejahatan yang disampaikan dalam audio tetap merupakan klaim yang belum terverifikasi.
Status Verifikasi dan Respons Media Arus Utama
Beberapa media besar menekankan bahwa rekaman audio dan tuduhan yang beredar belum terverifikasi secara hukum. Meskipun materi ini menarik perhatian luas, tidak ada bukti dari lembaga penegak hukum atau investigasi independen yang menguatkan narasi Riley. Laporan fact-check menyebutkan bahwa klaim dalam rekaman ini masih berada di ranah belum terbukti dan belum bisa dianggap fakta hukum atau investigatif.
Viralitasnya lebih dipicu oleh distribusi di platform online dan daya tarik naratif, bukan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara resmi. Dalam unggahan Substack yang mempublikasikan audio, penulis Lisa Noelle Voldeng menulis: “Setelah saya pertama kali berbicara dengan Sascha, saya secara selektif menghubungi sekutu, gereja, polisi, dan pejabat pemerintah di berbagai negara, dengan peringatan.” Pernyataan ini menunjukkan motivasi penerbit untuk menyebarkan kesaksian yang dianggap penting, namun tidak menggantikan verifikasi independen maupun bukti hukum yang sah.
Reaksi Internasional dan Debat Publik
Viralnya kesaksian ini telah memicu debat global tentang cara informasi sensitif disebarkan dan dikonsumsi di era digital. Beberapa pihak menyatakan pentingnya memberi ruang bagi suara korban dan memperluas kesadaran tentang masalah perdagangan anak serta kekerasan seksual. Sementara itu, pengamat lainnya memperingatkan risiko menyebarkan tuduhan berat tanpa verifikasi kredibel yang dapat menciptakan hoax dan disinformasi yang memengaruhi opini publik secara tidak bertanggung jawab.
Viralnya kesaksian Sasha Riley menunjukkan bagaimana narasi kuat dan konten sensitif dapat menyebar dengan sangat cepat di era digital. Hingga kini, kasus ini tetap dalam ranah klaim yang belum terbukti dan terus menjadi perbincangan serta kontroversi di komunitas global.











