Persaudaraan Umat Islam (PUI) Menuntut Penyelesaian Kasus-Kasus Besar
Persaudaraan Umat Islam (PUI) menyampaikan apresiasi terhadap kinerja Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. Koordinator PUI, Sjahrir Jasim, menilai bahwa pengungkapan kasus tersebut dilakukan dengan cepat dan profesional.
Kini, PUI juga meminta Polri untuk menuntaskan beberapa kasus besar yang masih menyisakan pertanyaan. Salah satu kasus yang menjadi perhatian adalah Tragedi Kanjuruhan dan KM 50. “Publik berharap standar yang sama diterapkan dalam penanganan kasus-kasus besar ini,” ujar Sjahrir Jasim.
Aksi Doa Bersama di Lokasi Tragedi KM 50
PUI sempat menggelar aksi damai di depan Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis (26/3/2026). Pada hari berikutnya, sejumlah anggota PUI menggelar aksi doa bersama di lokasi kejadian Kilometer 50 (KM 50) Tol Jakarta-Cikampek setelah salat Jumat (27/3/2026).
Dengan penuh kekhusyukan dan keprihatinan, peserta aksi memanjatkan doa bagi para korban tragedi KM 50 yang terjadi pada 7 Desember 2020 lalu. “Kami hadir di sini bukan untuk membuat gaduh. Kami hadir untuk berdoa, untuk mengingatkan bahwa keadilan tidak boleh kedaluwarsa,” kata Sjahrir Jasim.
Ia menambahkan bahwa aksi doa bersama ini merupakan bagian dari rangkaian gerakan moral PUI yang dimulai sehari sebelumnya. Lima tahun telah berlalu, tetapi keluarga korban masih menantikan kebenaran yang utuh. “Polri harus menuntaskan kasus ini hingga tuntas tanpa terkecuali,” tegasnya.
Pemanggilan Komisi III DPR
Pada Kamis (26/3/2026), PUI menggelar aksi damai di Kompleks Parlemen dan Mabes Polri. Tujuan dari aksi ini adalah agar Komisi III DPR membentuk panitia khusus (pansus) untuk mengawasi dan mendorong proses hukum agar berjalan adil.
Sjahrir menjelaskan bahwa kasus KM 50 yang menewaskan enam laskar Front Pembela Islam (FPI) masih menyisakan banyak kejanggalan. “Oleh karena itu, PUI mendorong Polri segera melanjutkan dan menuntaskan pengusutan kasus KM 50,” katanya.
Selain itu, PUI juga mendesak Komisi III DPR membentuk pansus untuk memastikan tidak ada kesan tebang pilih dalam penanganan kasus-kasus besar di negeri ini. “PUI tidak akan berhenti bersuara selama keadilan belum ditegakkan,” tambahnya.
Pandangan Pengamat
Menurut pengamat militer dan politik dari Universitas Nasional (UNAS), Selamat Ginting, kinerja Polri masih menyisakan tanda tanya publik, terutama dalam penanganan sejumlah kasus besar. Ia menyinggung kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan yang hingga kini masih memunculkan perdebatan.
“Memang pelaku sudah diproses hukum, tetapi publik masih mempertanyakan siapa aktor intelektual di balik peristiwa tersebut,” ujarnya.
Selamat juga menyoroti Peristiwa KM 50. “Ini bukan soal kemampuan teknis. Polri punya teknologi dan sumber daya. Tapi yang diuji adalah konsistensi membuka fakta, apalagi jika menyentuh internal,” tegasnya.
Transparansi dan Kepercayaan Publik
Selamat menegaskan bahwa keterbukaan dalam mengungkap pelanggaran internal justru menjadi ukuran keberanian institusi, bukan ancaman terhadap citra. “Kalau ada pelanggaran dan diungkap secara jujur, itu justru memperkuat kepercayaan publik,” ujarnya.
Kasus Penyiraman Air Keras
Sebelumnya, Mabes TNI telah menangkap dan memeriksa empat oknum anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) yang diduga terlibat dalam penyiraman terhadap Andrie Yunus. Keempatnya kini diperiksa oleh Polisi Militer TNI (POM TNI).
Di sisi lain, Polda Metro Jaya juga mengungkap jejak para pelaku melalui analisis rekaman CCTV di 86 titik. Dari ribuan menit rekaman, polisi menyusun kronologi pergerakan pelaku sejak berkumpul hingga melarikan diri setelah kejadian.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, menjelaskan pelaku diduga telah membuntuti korban sebelum melakukan aksi penyiraman di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, sekitar pukul 23.35 WIB.
Usai beraksi, para pelaku melarikan diri ke arah berbeda, termasuk menuju kawasan Senen, Gondangdia, hingga Jakarta Timur. Salah satu pelaku bahkan diduga sempat mengganti pakaian untuk menghilangkan jejak.











