"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Kapolri Mengunjungi Rumah Duka Meriyati Hoegeng, Ingat Pesan: Jaga Polri

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Berikan Penghormatan Terakhir untuk Eyang Meri

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hadir langsung di rumah duka mendiang Meriyati Roeslani Hoegeng atau yang akrab disapa Eyang Meri, istri dari Kapolri ke-5 almarhum Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Kehadiran Kapolri disambut oleh keluarga besar Polri dan para pejabat utama Mabes Polri. Dalam kesempatan tersebut, Jenderal Listyo Sigit mengungkapkan wasiat mendalam yang selalu disampaikan oleh Eyang Meri sebelum meninggal dunia.

Eyang Meri dikenal sebagai sosok yang selalu menekankan pentingnya menjaga integritas dan nilai kejujuran, seperti teladan yang ditinggalkan oleh suaminya, Jenderal Hoegeng. Kapolri menyebut bahwa Eyang Meri bukan hanya sekadar senior, tetapi juga sosok ibu dan teladan bagi seluruh keluarga besar Polri. Pesan yang disampaikan oleh Eyang Meri adalah “jaga dan titip Polri”, pesan yang menjadi amanat bagi seluruh anggota Polri untuk melanjutkan perjuangan dan nilai-nilai tersebut.

Kedekatan antara Kapolri dengan Eyang Meri sangat dalam. Sigit menceritakan bahwa dirinya sering menerima kiriman video pribadi dari almarhumah pada momen-momen tertentu, seperti hari ulang tahun. Hal-hal tersebut selalu disertai dengan pesan-pesan yang berharga bagi keluarga besar Polri. Pertemuan terakhir Kapolri dengan Eyang Meri terjadi saat perayaan ulang tahun ke-100 sang ibu Bhayangkari. Semangat Eyang Meri untuk menjaga nama baik institusi tidak pernah luntur meskipun di usia satu abad.

Kepergian Eyang Meri meninggalkan lubang besar bagi Polri, namun Sigit menegaskan bahwa wasiat almarhumah akan menjadi kompas bagi kepemimpinannya ke depan. “Kami akan menjaga apa yang menjadi wasiat beliau, menjaga integritas, menjaga institusi Polri,” tegasnya.

Perjuangan Eyang Meri di Masa Senja

Eyang Meri wafat di usia 100 tahun 6 bulan setelah menjalani perawatan intensif di RS Polri Kramat Jati sebelum meninggal dunia. Putra almarhumah, Aditya Soetanto Hoegeng, mengungkapkan bahwa sang ibunda sempat menjalani perawatan intensif dalam beberapa minggu terakhir. Menurut Adit, ibundanya sempat dua kali dilarikan ke rumah sakit dalam waktu yang berdekatan.

Penurunan kesehatan Eyang Meri disebabkan oleh komplikasi faktor usia yang diperparah dengan cedera paha yang dialaminya sejak tahun 2020 silam. Kondisi ini membuat wanita yang wafat di usia 100 tahun 6 bulan tersebut harus menghabiskan sisa hidupnya dengan terbaring di tempat tidur. Adit menjelaskan bahwa meski harus berjuang selama enam tahun di atas tempat tidur, kondisi kesehatan ibundanya cukup baik untuk orang seusianya.

Pemakaman di Samping Jenderal Hoegeng

Jenazah Eyang Meri rencananya akan dimakamkan pada Rabu besok di Tempat Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Giri Tama, Tonjong, Parung, Bogor. Lokasi ini dipilih agar Ibu Meri dapat beristirahat selamanya tepat di samping makam sang suami, Jenderal Hoegeng. Adit menjelaskan bahwa pemilihan lokasi pemakaman tersebut memiliki makna mendalam. Ternyata, Jenderal Hoegeng semasa hidupnya sengaja berpesan agar tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata.

Alasan Jenderal Hoegeng tidak ingin dimakamkan di TMP Kalibata adalah karena ia ingin terus berdampingan dengan sang istri hingga akhir hayat. “Kalau saya di Makam Pahlawan, ibumu tidak bisa ada di sebelah saya,” kenang Adit menirukan ucapan ayahnya. Karena besarnya rasa cinta Jenderal Hoegeng kepada Ibu Meri, ia lebih memilih dimakamkan di luar TMP Kalibata asalkan sang istri bisa berada di sisinya kelak.

Profil Singkat Eyang Meri

Eyang Meri lahir pada 23 Juni 1925 dan menikah dengan Jenderal Hoegeng pada 31 Oktober 1946 di Yogyakarta. Jenderal Hoegeng Iman Santoso adalah Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) ke-5 yang menjabat pada periode 1968 hingga 1971. Ia dikenal sebagai sosok polisi yang jujur, berintegritas tinggi, dan anti-korupsi dalam sejarah kepolisian Indonesia.

Dari pernikahan keduanya, dikaruniai tiga orang anak yakni Sri Pamujining Rahayu, Reni Soerjanti, dan Aditya Soegeng Roeslani. Sosok Eyang Meri dikenal sebagai wanita yang memiliki suri tauladan para insan Bhayangkara di Indonesia. Bahkan, banyak tokoh yang selalu menghormati dirinya menjelang hari Bhayangkara setiap 1 Juli.

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *