"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Latihan Militer Afrika Selatan Bersama Rusia, Iran, dan Cina

Latihan Angkatan Laut Gabungan Afrika Selatan

Afrika Selatan pada Jumat menjadi tuan rumah latihan angkatan laut gabungan selama sepekan yang diikuti oleh Rusia, Cina, dan Iran di lepas pantai Cape Town. Latihan ini terjadi dalam konteks ketegangan geopolitik yang meningkat akibat intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela dan penyitaan beberapa kapal tanker minyak.

Kementerian Pertahanan Cina menyatakan bahwa latihan tersebut, yang akan dimulai dengan upacara pembukaan pada Sabtu 10 Januari 2026, adalah “operasi gabungan untuk melindungi jalur pelayaran vital dan kegiatan ekonomi”. Serangan terhadap target maritim dan penyelamatan “kontra-terorisme” akan menjadi bagian dari latihan tersebut.

Latihan yang diberi nama WILL FOR PEACE 2026 ini dimulai pada 9 Januari dan akan berakhir pada 16 Januari 2026. Latihan ini dilakukan di perairan teritorial Afrika Selatan. Kapal-kapal Cina, Rusia, dan Iran terlihat bergerak masuk dan keluar dari pelabuhan yang melayani pangkalan angkatan laut utama Afrika Selatan di Simon’s Town, selatan Cape Town, tempat Samudra Hindia bertemu dengan Samudra Atlantik.

Angkatan Pertahanan Nasional Afrika Selatan mengatakan latihan ini bertujuan untuk berkontribusi pada keselamatan jalur pelayaran, memperdalam kerja sama, dan stabilitas maritim regional secara keseluruhan. Cina bertindak sebagai negara pemimpin untuk latihan selama sepekan ini.

Kondisi Geopolitik yang Memicu Latihan

Latihan militer ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan setelah militer AS menyerang ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu pekan lalu dan menculik presiden negara itu, Nicolas Maduro. Pemerintahan Trump juga telah menyita kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela di perairan internasional, termasuk kapal berbendera Rusia di Atlantik Utara yang menurut Washington telah melanggar sanksi AS.

Penyitaan tersebut menuai kecaman dari Moskow, dengan otoritas Rusia menggambarkan insiden tersebut sebagai pelanggaran hukum maritim internasional.

Latihan tersebut awalnya dijadwalkan pada November tahun lalu tetapi ditunda karena bentrok jadwal dengan KTT G20 di Johannesburg.

Tanggapan dari Pihak Terkait

Ketika ditanya tentang waktu penyelenggaraan acara tersebut, Wakil Menteri Pertahanan Afrika Selatan, Bantu Holomisa, mengatakan bahwa acara itu telah direncanakan jauh sebelum ketegangan yang kita saksikan saat ini. “Janganlah panik hanya karena AS memiliki masalah dengan beberapa negara,” kata Holomisa. “Mereka bukanlah musuh kami.”

Partai Aliansi Demokratik (DA), yang merupakan bagian dari pemerintahan Persatuan Nasional (GNU) yang dipimpin oleh Partai Kongres Nasional Afrika (ANC) pimpinan Presiden Cyril Ramaphosa, mengkritik latihan tersebut. “Menyebut latihan ini sebagai ‘kerja sama BRICS’ adalah trik politik untuk melunakkan apa yang sebenarnya terjadi, pemerintah memilih hubungan militer yang lebih dekat dengan negara-negara nakal dan yang dikenai sanksi seperti Rusia dan Iran,” kata DA dalam sebuah pernyataan.

Wakil Menteri Pertahanan Bantu Holomisa mengatakan kepada stasiun televisi lokal Afrika pada Jumat bahwa SANDF telah terlibat dalam latihan angkatan laut gabungan semacam itu dengan negara lain untuk waktu yang lama. “Ini bukan pertama kalinya mereka (SANDF) melakukan latihan ini dengan negara-negara sahabat. Ingat, Afrika Selatan sekarang adalah bagian dari BRICS dan banyak negara telah bergabung dengan BRICS,” katanya.

Tantangan dan Kekhawatiran

BRICS adalah blok negara-negara berkembang, yang awalnya termasuk Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan, tetapi kemudian menerima anggota baru, termasuk Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), Ethiopia, Indonesia, dan Iran. Holomisa mengatakan latihan ini akan meningkatkan moral pasukan SANDF, menambahkan bahwa merupakan suatu kehormatan bagi mereka untuk berlatih dengan negara-negara yang memiliki perlengkapan militer yang memadai.

Ia mengatakan Cina, Rusia, Afrika Selatan, Iran, dan Uni Emirat Arab akan menggunakan kapal mereka untuk latihan. Sementara Indonesia, Ethiopia, dan Brasil mengirimkan pengamat ke latihan tersebut.

Hubungan antara Washington dan Pretoria merosot ke titik terendah tahun lalu karena perbedaan pendapat tentang kebijakan luar negeri dan dalam negeri. Tahun lalu, Presiden AS Donald Trump menuduh Afrika Selatan melakukan dugaan “genosida” terhadap Afrikaner yang merupakan keturunan pemukim kulit putih dan penyitaan tanah mereka.

Andre Duvenhage, seorang Profesor ilmu politik di Universitas North West, menyatakan kekhawatiran bahwa latihan angkatan laut gabungan tersebut dapat semakin memperburuk hubungan antara Washington dan Pretoria. “Saya tidak ragu bahwa ini akan mempersulit hubungan dengan Amerika Serikat, serta negara-negara Barat lainnya dan ini mungkin sangat serius. Saat ini, kami sebagai negara membutuhkan investasi, dukungan ekonomi dan keuangan. Ini bermasalah; ini memberikan sinyal yang salah kepada orang yang salah,” katanya kepada Anadolu pada hari Jumat.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *