"Semarang Hari Ini: Informasi Terkini untuk Anda"

Trump Klaim Nyawanya Diancam Teheran, Balas Ancam Hancurkan Iran

Perang Politik dan Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran



Washington DC – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa AS akan mengambil tindakan tegas terhadap Iran jika negara tersebut mencoba membunuhnya. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan News Nation yang bertepatan dengan satu tahun masa jabatannya, yang tayang pada Selasa (20/1/2026).

Trump menekankan bahwa respons AS akan berskala penuh terhadap ancaman dari Iran. Ia menyatakan bahwa jika ada upaya pembunuhan terhadap dirinya, maka seluruh negara Iran akan hancur. “Apa pun yang terjadi, seluruh negara itu akan hancur. Saya akan menghantam mereka dengan keras, tak terelakkan. Saya punya instruksi yang sangat keras,” ujarnya.

Instruksi Keras dari Trump

Dalam wawancara tersebut, Trump menegaskan bahwa ia akan merespons dengan cara yang sama terhadap siapa pun yang mencoba membunuh warga Amerika, meskipun bukan presiden. Ia juga mengkritik Joe Biden, mantan presiden AS, karena dinilai tidak merespons ancaman Iran secara tegas selama masa kepresidenannya. Trump menambahkan bahwa seharusnya para pejabat membelanya sebagai mantan presiden.

Trump menekankan bahwa ia akan bereaksi keras terhadap ancaman terhadap warga Amerika mana pun, meskipun bukan presiden.

Klaim Upaya Pembunuhan

Komentar Trump muncul setelah Departemen Kehakiman AS mengumumkan pada November 2024 bahwa FBI telah menggagalkan upaya Iran untuk membunuh Trump sepekan sebelum pemilu. Pejabat federal menyebut rencana tersebut sebagai bagian dari “upaya berkelanjutan Teheran untuk menargetkan pejabat pemerintah AS, termasuk Trump, di wilayah Amerika Serikat.”

Ketegangan antara AS dan Iran meningkat setelah protes meletus di Iran pada 28 Desember akibat memburuknya kondisi ekonomi. Trump memperingatkan agar tidak terjadi pembunuhan terhadap pengunjuk rasa dan eksekusi massal, serta mengkritik keras cara otoritas Iran menangani kerusuhan. Ia bahkan mengancam akan turun tangan mendukung para demonstran dan menyerukan berakhirnya kekuasaan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei yang telah berlangsung 37 tahun.

Respons Keras dari Teheran

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, merespons dengan menyatakan bahwa menargetkan Khamenei sama dengan “deklarasi perang total terhadap rakyat.” Dalam unggahan di X, Pezeshkian menyebut “penderitaan dan kesengsaraan” rakyat Iran sebagai akibat dari “sanksi tidak manusiawi” yang diberlakukan pemerintah AS dan sekutunya.

Pernyataan ini menyusul wawancara Trump dengan Politico pada Sabtu, di mana ia menyerukan pencarian “kepemimpinan baru di Iran,” seiring data yang menunjukkan penurunan skala protes. Khamenei kemudian melabeli Trump sebagai “penjahat,” dan menyalahkannya atas korban jiwa, kerusakan, serta “pencemaran reputasi rakyat Iran” selama dua pekan terakhir kerusuhan.

Peringatan Menlu Iran Soal Perang Besar

Pada Selasa, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan agar tidak ada serangan baru terhadap negaranya. Ia mengatakan, konfrontasi skala penuh akan berlangsung lama, melanda seluruh kawasan, dan berdampak pada dunia. Dalam tulisannya di Wall Street Journal, Araghchi menyebut tindakan AS sebagai “kegagalan diplomasi yang paling nyata” dan sebuah “ancaman yang membayangi.”

Araghchi menyatakan, berbeda dengan sikap menahan diri Iran pada Juni 2025, militer Iran akan merespons “dengan seluruh kekuatannya” terhadap serangan baru. “Ini bukan ancaman, melainkan fakta yang perlu saya jelaskan secara tegas karena, sebagai diplomat dan veteran, saya membenci perang,” tulis Araghchi dalam opini berjudul The Iranian Government Defends Its Campaign.

Ia menambahkan bahwa konfrontasi total akan berlangsung jauh lebih lama daripada “linimasa imajiner” yang didorong oleh “Israel dan para proksinya di Gedung Putih.” Araghchi juga mengulangi tuduhan keterlibatan Israel dalam protes, dengan merujuk pada komentar publik mantan Direktur CIA Mike Pompeo tentang penetrasi Mossad ke dalam gerakan rakyat.

Menutup tulisannya, Araghchi menyerukan “perubahan arah,” seraya menilai 12 bulan pertama pemerintahan Trump hanya membawa perang ke kawasan. Ia menegaskan Teheran akan “selalu memilih perdamaian ketimbang perang” dan tetap siap untuk “perundingan yang serius dan nyata demi kesepakatan yang adil dan seimbang.”

“Iran menyampaikan pesan yang jelas kepada Presiden Trump: Amerika Serikat telah mencoba setiap bentuk tindakan bermusuhan terhadap Iran, dari sanksi dan serangan siber hingga serangan militer langsung dan, yang terbaru, secara terang-terangan mendukung operasi teroris besar—semuanya gagal,” tulis Araghchi. “Saatnya berpikir berbeda. Mari kita coba saling menghormati, yang akan memungkinkan kita mencapai kemajuan melampaui apa yang mungkin dibayangkan sebagian orang.”

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *