Tim SAR Menerjunkan Helikopter untuk Pencarian Pesawat ATR 42-500
Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) akhirnya menerjunkan helikopter untuk evakuasi dan pencarian puing pesawat ATR 42-500. Hari kelima pencarian korban pesawat di kaki Gunung Bulusaraung, Desa Tompu Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan (Sulsel), dilanjutkan.
Rabu (21/1/2026), pencarian mengalami perubahan. TNI menerjunkan satu unit helikopter ke lokasi kejadian. Helikopter tersebut diturunkan setelah Pemerintah Provinsi Sulsel mengucurkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp2,5 miliar untuk pencarian pesawat di Pangkep. Alokasi anggaran ini mencakup pembiayaan logistik harian bagi personel, kebutuhan operasional, serta dukungan teknis lainnya selama proses pencarian berlangsung.
Kelancaran logistik bagi tim gabungan menjadi faktor penting agar pencarian dapat dilakukan secara berkelanjutan dan optimal. Alokasi anggaran ini akan mengakomodir seluruh pihak yang terlibat. “Kami menggeser anggaran untuk operasional pencarian, semua instansi kita cover. Dari TNI/Polri, Basarnas, SAR Sulsel, BPBD biaya untuk kedaruratan dan bencana ini,” kata Andi Sudirman saat ditemui di Baruga Asta Cita, Rumah Jabatan (Rujab) Gubernur Sulsel, Jl Sungai Tangka, Kecamatan Ujung Pandang, Makassar pada Senin (19/1/2026) malam.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sulsel Abdul Malik Faisal juga ikut menyiapkan penyaluran logistik bagi tim pencari. Logistik ini merupakan milik Dinsos yang umumnya disiagakan apabila ada bencana. “Kita akan bawa suplai pangan natura. Ada beras, mie dan air mineral. Ada Tagana yang masak,” kata Abdul Malik Faisal saat dihubungi pagi tadi.
Kebutuhan logistik bagi tim gabungan diperlukan menunjang fisik. Setiap hari, fisik tim terkuras karena harus naik turun gunung, ditambah dengan kondisi cuaca tak menentu. Abdul Malik akan mendirikan dapur umum tambahan. “Mereka disiapkan satu dapur umum, nanti dikoordinir masing-masing kesatuannya ambil. Termasuk wartawan juga bisa. Semuanya bisa,” kata Abdul Malik. Dapur umum ini bisa diakses seluruh pihak relawan hingga wartawan di lokasi.
Hari ini, pukul 9.22 Wita, Helikopter jenis Heli Puma melintas di wilayah Kecamatan Cenrana Maros. Cenrana adalah kecamatan di Maros yang berbatasan langsung dengan lokasi jatuhnya pesawat. Heli tersebut melakukan pencarian korban lewat udara. Heli Puma adalah helikopter angkut sedang buatan Prancis yang dikembangkan perusahaan Aérospatiale (sekarang Airbus Helicopters). Nama resminya adalah SA 330 Puma. Helikopter ini banyak digunakan untuk angkut pasukan dan logistik militer, evakuasi medis, operasi SAR, transportasi VIP dan sipil. Heli Puma bermesin ganda (twin-engine), mampu mengangkut sekitar 16–20 penumpang, bisa terbang di medan berat seperti pegunungan dan hutan, pintu geser lebar untuk memudahkan evakuasi. Di Indonesia, Heli Puma sering digunakan oleh TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Darat untuk operasi militer, bantuan bencana, dan misi kemanusiaan.
Cuaca Cerah Mempercepat Proses Pencarian
Rabu (21/1/2026) pagi, cuaca di kawasan Gunung Bulusaraung menunjukkan perubahan positif. Setelah empat hari diselimuti hujan dan kabut tebal sejak hari pertama pencarian pesawat ATR 42-500, langit akhirnya tampak cerah. Kondisi cuaca yang lebih bersahabat ini menjadi angin segar bagi tim pencari.
Pesawat ATR 42-500 PK-THT sebelumnya dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026). Serpihan pesawat pertama kali ditemukan di hari yang sama, beberapa jam setelah kejadian, di kawasan Gunung Bulusaraung pada koordinat 04°55’48” Lintang Selatan dan 119°44’52” Bujur Timur.
Memasuki hari kelima pencarian, Tim SAR gabungan bersama TNI dan Polri mengawali kegiatan dengan apel pagi di halaman Masjid Djamami Darussalam, tepat di depan Pos Basarnas, Kantor Desa Tompobulu. Apel ini menandai dimulainya kembali operasi pencarian di medan pegunungan yang berat. Puluhan personel berdiri berbaris di bawah pepohonan. Seragam yang beberapa hari lalu selalu basah oleh hujan, kini mulai kering diterpa udara pagi yang cerah.
Apel dan pengarahan dipimpin Asrendam XIV/Hasanuddin, Kolonel Inf Abi Kusnianto. Cuaca cerah bukan sekadar perubahan alam, tetapi menjadi peluang penting untuk memperluas area pencarian. Lereng curam, jalur terjal, dan hutan lebat Bulusaraung kembali disisir secara bertahap. Sebelumnya, hujan dan kabut tebal kerap menghambat pergerakan tim. Jarak pandang pendek dan medan licin memaksa pencarian dilakukan dengan sangat hati-hati. Kini, dengan langit yang lebih terbuka, pandangan ke lereng dan lembah menjadi lebih jelas sehingga pencarian dapat dilakukan lebih efektif.
Langkah-langkah para personel kembali menyusuri sunyi pegunungan. Di balik tugas berat itu, tersimpan harapan besar keluarga korban yang menunggu kepastian. Hari kelima pencarian bukan hanya soal waktu, tetapi tentang ketekunan dan keyakinan bahwa cuaca yang membaik akan membantu tim semakin dekat menemukan jawaban.











