Indonesia dan Keterlibatan dalam Board of Peace
Beberapa waktu terakhir, isu mengenai keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi perbincangan hangat. Peran Indonesia sebagai negara yang lahir dari penolakan terhadap penjajahan memicu berbagai tanggapan, termasuk dari mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.
Eskalasi Ketegangan di Tengah Geopolitik Global
Perkembangan situasi geopolitik internasional, khususnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, menarik perhatian masyarakat Indonesia. Pemerintah dianggap harus merespons konflik tersebut dengan langkah diplomatik yang tepat. Salah satu isu yang ramai diperbincangkan adalah sikap politik yang diambil oleh Presiden Prabowo Subianto.
Menurut keterangan dari Kementerian Luar Negeri, Prabowo menyatakan bahwa Indonesia siap berperan sebagai mediator dialog damai antara Iran dan Amerika Serikat. Bahkan, ia bersedia melakukan kunjungan langsung ke Teheran untuk menjalankan tugas sebagai juru damai. Namun, gagasan ini tidak sepenuhnya diterima secara bulat oleh seluruh kalangan.
Tanggapan Dari Mantan Duta Besar RI untuk Iran
Salah satu tokoh yang memberikan kritik terhadap kebijakan pemerintah adalah Dian Wirengjurit, mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran. Menurut Dian, pemerintah Iran kemungkinan tidak akan sepenuhnya menerima Indonesia sebagai mediator dalam konflik tersebut. Hal itu dipicu oleh posisi Indonesia saat ini yang tergabung dalam Board of Peace, sebuah badan internasional yang dibentuk oleh Presiden Trump.
Menurut Dian, keterlibatan Indonesia dalam organisasi tersebut berpotensi memengaruhi cara pandang Iran terhadap tingkat netralitas Indonesia. Ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana Indonesia dapat tetap dianggap netral dalam konflik yang melibatkan dua negara besar.
Pandangan Anies Baswedan Mengenai Keikutsertaan Indonesia dalam BoP
Baru-baru ini, Anies Baswedan turut menanggapi soal keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace. Ia mengaitkannya dengan pembukaan UUD 1945, yang menyatakan bahwa Indonesia lahir dari penolakan terhadap penjajahan. Di dalam pembukaan UUD 1945, Indonesia berjanji untuk menciptakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Anies menilai bahwa keikutsertaan Indonesia dalam BoP yang dipimpin oleh Trump menimbulkan pertanyaan mengganggu. “Apakah ini benar-benar jalan untuk perdamaian yang adil, atau kita sedang ikut melegitimasi ketidakadilan yang selama ini kita kecam?” tanyanya.
Ia juga menyampaikan kebingungan terhadap fakta bahwa Board of Peace menyuarakan perdamaian, namun pendirinya justru melakukan serangan terhadap Iran. “Board of Peace memang tertulis menjanjikan perdamaian, namun ketuanya yaitu Presiden Trump, justru baru saja memerintahkan serangan militer ke Iran bersama Israel. Tanpa mandat PBB, tanpa ancaman nyata, dan di tengah negosiasi yang justru menunjukkan kemajuan,” katanya.
Makna Politik Bebas Aktif
Anies kemudian menjelaskan makna dari politik bebas aktif. Menurutnya, bebas aktif bukan berarti bisa mengikuti semua hal. “Bebas aktif bukan berarti asal ikut di semua meja, bebas aktif adalah kewajiban memilih meja yang selaras dengan prinsip kita yaitu membela kedaulatan, menegakkan hukum internasional, dan membela korban penjajahan.”
Ia menilai bahwa Indonesia sebaiknya keluar dari Board of Peace dan menyatakan dengan tegas bahwa mereka tidak bisa berada dalam forum perdamaian yang menutup mata pada pelanggaran hukum internasional oleh pendirinya sendiri.
Keluar dari BoP Bukan Anti Perdamaian
Anies menekankan bahwa mundur dari BoP bukan berarti anti perdamaian. Justru, keluar dari BoP menunjukkan kesetiaan pada nurani bangsa. “Keluar dari Board of Peace bukan tindakan anti perdamaian, itu adalah cara kita menunjukkan bebas aktif bukan soal mendekat ke pusat-pusat kekuasaan, tapi soal kesetiaan pada nurani bangsa.”
Ia mempertanyakan apakah Indonesia rela menukar warisan The Spirit of Bandung dengan simbol keikutsertaan di sebuah dewan perdamaian yang bahkan tak sanggup menyandang namanya sendiri. “Kita perlu pikirkan secara serius,” tutupnya.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."











